Tak ada istilah terlalu tua untuk rock n' roll.
Memang, mereka belum setua Rolling Stones. Tapi, untuk ukuran pria berumur 30-an pada saat itu—sebagian bahkan sudah memiliki anak—Teenage Death Star tak bisa dibilang muda. Walau di tengah-tengah penampilan panggung saya sering lihat mereka sudah terengah-engah, tapi anak-anak (eh, bapak-bapak) ini masih bisa menyuguhkan pertunjukan liar dan ugal-ugalan, yang mampu mengalahkan anak muda yang merasa paling tahu rock n’ roll-hanya-karena-memakai-jins- ketat-berkaos-Ramones-Rolling Stones-atau AC DC-padahal-belum-tentu-pernah- mendengar-musiknya. Enerji yang besar itulah yang kemudian jadi daya Tarik utama dari penampilan panggung Teenage Death Star.
SIR DANDY
VOCALSSir Dandy adalah seorang professional male model, vokalis dari Teenage Death Star, serta Headmaster dari Canvas Confluence Collective. Ia juga menjabat sebagai Presiden Tangsel Creative Foundation dan dikenal sebagai spiritual scientist di Spaccce Jakarta. Berbasis di Bintaro, Sir Dandy aktif berkarya di persimpangan musik, mode, seni, dan pengembangan ekosistem kreatif. Melalui berbagai peran yang dijalankannya, ia berkontribusi dalam membangun ruang kolaborasi, mendorong pertukaran gagasan, serta mengembangkan praktik kreatif yang menghubungkan seni, budaya, dan kesadaran kontemporer.
ALVIN YUNATA
GUITARAlvin Yunata adalah seorang pengembang proyek budaya dan penggerak inisiatif arsip yang aktif menjembatani kerja-kerja kreatif dengan dukungan pendanaan dan kolaborasi strategis. Ia terlibat dalam upaya penggalangan dana untuk Irama Nusantara dan Dlaja Bunyi, dengan fokus pada keberlanjutan program, pengembangan jaringan, serta penguatan ekosistem arsip dan pengetahuan budaya. Selain itu, Alvin juga dikenal sebagai perancang dan pengembang berbagai pameran berbasis arsip, mengolah dokumen, rekaman, artefak, dan memori kolektif menjadi pengalaman yang dapat diakses publik. Melalui praktiknya, ia berupaya mempertemukan sejarah, penelitian, dan presentasi kreatif dalam format yang relevan bagi audiens kontemporer.
HELVY SJARIFUDIN
GUITARHelvi Sjarifudin merupakan sosok penting dalam skena musik independen Indonesia, khususnya di Bandung. Di tengah penampilan panggung Teenage Death Star yang sering kali penuh kekacauan kreatif, Helvi justru dikenal sebagai figur yang lebih pendiam dan tenang dibandingkan personel lainnya. Beberapa ulasan konser bahkan menggambarkannya sebagai sosok paling kalem di atas panggung, kontras dengan atmosfer riuh yang dibangun band tersebut. Di luar aktivitasnya sebagai musisi, Helvi juga merupakan salah satu pendiri FFWD Records (Fast Forward Records), label independen yang berdiri pada 1999 dan menjadi salah satu pionir perkembangan musik independen di Indonesia. Melalui FFWD Records, ia berperan dalam memperkenalkan dan mengembangkan berbagai musisi serta band alternatif, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Dia juga dikenal sebagai penggerak di balik 3Hundred, sebuah event organizer dan promotor yang aktif menghadirkan berbagai konser serta kegiatan musik independen. termasuk konser-konser Teenage Death Star yang menjadi bagian dari sejarah skena musik independen Bandung.
SAT NB
BASSSAT NB adalah musisi dan pelaku usaha kreatif yang dikenal sebagai vokalis dari Pure Saturday, salah satu kelompok musik yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan skena independen Indonesia. Selain aktif di dunia musik, ia juga merupakan pemilik Karassan di Batukaras, sebuah ruang yang menggabungkan pengalaman kuliner, keramahan, dan kedekatan dengan budaya pesisir. Melalui kiprahnya di bidang musik dan hospitality, SAT NB terus mengembangkan ruang-ruang yang mempertemukan kreativitas, komunitas, dan gaya hidup yang berakar pada pengalaman serta kecintaannya terhadap budaya independen.
FIRMAN ZAENUDIN
DRUMSFirman Zaenudin adalah fondasi ritme di balik bising dan ugal-ugalan-nya unit rock n roll/punk legendaris asal Bandung, Teenage Death Star (TDS). Di tengah konsep "Skill is Dead" yang diusung oleh band, Firman justru menjadi pilar krusial yang menjaga denyut nadi lagu-lagu TDS tetap bertenaga, cepat, dan presisi di atas panggung. Selain aktif sebagai musisi performer, Firman adalah seorang kreator konten yang bergerak di bidang audio-visual. Ia memiliki keahlian mendalam di dunia video editing dan audio production, sebuah kombinasi visual-audio yang membuatnya sangat peka terhadap ketukan, ritme, dan estetika.
VINCENT ROMPIES
GUITARVincent dikenal memiliki energi panggung yang sangat ekspresif, eksplosif, dan tidak ragu untuk tampil berantakan demi menghidupkan esensi pertunjukan musik itu sendiri. Hal ini membuatnya sangat cocok dengan etos "Skill is Dead" yang diusung oleh band punk. Vincent awalnya kerap dilibatkan sebagai gitaris tamu ketika salah satu gitaris utama TDS berhalangan hadir. namun berjalannya Waktu, Vincent akhirnya bisa ikut menegakan bendera Teenage Death Star Bersama teman-teman lainnya. Salah satu momen ikonik awal adalah saat ia menggantikan posisi Helvi di festival Cherrypop 2022 di Yogyakarta. Sifat TDS yang terkenal ugal-ugalan dan penuh kejutan di atas panggung (seperti melemparkan mikrofon atau melakukan hal-hal jenaka) sangat menyatu dengan energi Vincent. Penampilan Vincent bersama TDS di berbagai festival besar, seperti CurvaSudFest dan Pestapora, kerap menjadi sorotan utama karena aksi panggungnya yang totalitas dan dinilai "kesurupan" oleh penonton.